Kalau kamu belum punya hasil, mulai dulu dengan tes SBTI online lalu kembali membaca artikel ini dengan tipe kamu.
Saat pertama kali melihat SBTI, saya sebenarnya tidak terlalu menganggapnya serius.
Reaksi pertama saya sederhana: bukankah ini cuma satu lagi tes bercanda khas internet? Jawab beberapa pertanyaan, lalu dapat hasil yang agak absurd, agak menusuk, dan sangat cocok untuk di-screenshot lalu dikirim ke grup. Kamu tertawa sebentar, teman membalas “ini kamu banget”, lalu selesai.
Tapi semakin saya melihatnya, semakin terasa bahwa ia tidak sesederhana itu.
Bukan karena tiba-tiba ia berubah menjadi teori kepribadian yang serius, dan bukan karena saya ingin membungkusnya sebagai alat psikologi. Justru sebaliknya, bagian SBTI yang paling menarik bagi saya adalah: walaupun jelas-jelas tidak terlalu serius, ia bisa memadatkan banyak keadaan yang biasanya membuat orang malu mengatakannya, tidak tahu cara mengatakannya, atau terasa terlalu berat kalau diucapkan, menjadi satu kata yang langsung dimengerti teman.
Ia tidak seperti sedang bertanya, “sebenarnya kamu orang seperti apa?” Ia lebih seperti sedang berkata:
Belakangan ini kamu agak seperti ini, ya?
Kalau belum pernah mencoba, kamu bisa mengerjakan tes SBTI dulu. Tapi artikel ini bukan untuk menyuruhmu percaya pada hasilnya, dan bukan juga untuk menjelaskan ulang apa itu SBTI. Saya lebih ingin membahas kenapa tes yang tampak cukup nyelekit ini justru punya rasa manusia yang jarang.
Hal paling menarik bukan akurasinya, melainkan bahasanya yang terasa manusiawi
Banyak tes kepribadian berusaha membuat orang terdengar lebih baik.
Kamu bukan plin-plan, kamu hanya punya perasaan yang halus. Kamu bukan dingin, kamu hanya punya batas yang jelas. Kamu bukan terlalu mengontrol, kamu hanya punya arah tujuan yang kuat. Membacanya tentu nyaman, karena selalu ada lapisan filter yang disisakan untukmu.
SBTI bukan jalur itu.
Ia lebih seperti teman bermulut pedas tapi cukup jeli, duduk di samping sambil menontonmu menjalani hidup, lalu tidak tahan berkata: kamu ini bukannya BOSS? Semua hal ingin kamu ambil alih, pesan minuman di grup saja masih ingin kamu atur prioritasnya. Kamu ini bukannya IMSB? Orang lain membalas pesan sedikit lambat, kamu sudah menghukum diri sendiri tiga putaran di kepala. Kamu ini bukannya OJBK? Di mulut bilang terserah, padahal sebenarnya malas ikut semua tarik-menarik yang tidak ada gunanya.
Kata-kata ini tentu tidak elegan, juga tidak terdengar mewah. Tapi justru sangat mirip bahasa obrolan sehari-hari.
MUM bukan “tipe kepribadian pengasuh” yang dingin, melainkan orang yang sebelum keluar rumah bertanya apakah kamu sudah membawa payung, yang menyiapkan tisu sebelum orang lain runtuh, lalu pada akhirnya dirinya sendiri kelelahan sampai tidak ingin bicara.
CTRL juga bukan sekadar “tipe pengontrol”. Ia lebih seperti orang yang di kepalanya selalu ada papan catur hubungan: siapa sedang mengetes, siapa sedang mundur, kalimat itu sebenarnya maunya apa, mungkin ia sudah melihatnya tiga detik lebih cepat daripada orang yang terlibat.
Saya menyukai bagian SBTI ini bukan karena ia sopan, melainkan karena ia tidak berpura-pura.
Ia tidak menerjemahkan semuanya menjadi istilah abstrak yang cantik, tetapi langsung menulis banyak keadaan manusia dalam bahasa grup chat. Satu label dilempar, teman mungkin sudah paham tujuh puluh persennya.
MBTI seperti memberi lapisan emas, SBTI seperti menunjuk tepat ke muka
Saya pernah melihat ungkapan yang menarik: MBTI memberi lapisan emas pada orang, SBTI menunjuk tepat ke muka orang.
Kalimat itu tentu agak berlebihan, tapi menurut saya sangat tepat.
MBTI cocok memberi orang identitas yang relatif stabil dan pantas. Kamu adalah INFJ, terdengar misterius, mendalam, dan sulit dipahami; kamu adalah ENTJ, terdengar efisien, ambisius, dan mampu memimpin tim.
Deskripsi seperti itu bukan tidak berguna. Ia memang bisa membantu orang menyusun narasi tentang diri sendiri. Tetapi ketika semua label berusaha terlihat tinggi dan rapi, orang pelan-pelan terbiasa melihat diri lewat filter.
Arah SBTI justru kebalikannya.
Ia bilang kamu ZZZZ, reaksi pertamamu mungkin bukan “wah, aku dimengerti”, melainkan “sudah, jangan menghina lagi”. Ia bilang kamu DEAD, kamu juga sulit memasukkannya ke biodata diri yang manis. Ia bilang kamu ATM-er, rasanya lebih seperti teman menunjukmu di tempat: kamu sedang memakai pemberian untuk menukar sedikit rasa dibutuhkan lagi, ya?
Rasa tidak nyaman ini justru membuatnya terasa nyata.
Tentu, saya tidak mengatakan semakin menyinggung semakin baik. Serangan kasar hanya membuat orang kesal. Tetapi bagian halus dari SBTI adalah banyak “sindiran”nya bukan serangan acak, melainkan tepat menginjak keadaan yang akrab bagi manusia sekarang: overthinking, menyerah diam-diam, keras mulut, pura-pura baik-baik saja, ingin dicintai tapi takut merepotkan orang lain.
Jadi cara ia membuat orang merasa tertampar bukan “kamu buruk sekali”, melainkan:
Kamu juga tahu kan, dirimu memang agak seperti ini?
Kalau ingin membongkarnya lebih rinci, kamu bisa membaca kenapa SBTI terasa akurat. Di sini saya lebih ingin mengatakan bahwa “akurat” dalam SBTI sering kali bukan akurat dalam arti pengukuran, melainkan akurat dalam arti ekspresi.
Ia mengubah kalimat yang sangat sulit diucapkan menjadi hasil yang bisa dipakai bercanda.
Yang benar-benar ingin saya lihat adalah pola hubungan di balik label
Kalau hanya berhenti di label, SBTI cepat sekali menjadi membosankan. Kamu BOSS, dia OJBK, dia LOVE-R, semua orang tertawa lalu bubar. Cara bermain seperti itu tentu boleh, tapi menurut saya bagian paling bernilai justru ada di balik label.
Misalnya IMSB membuat saya berpikir bukan hanya tentang meme “orang yang menyerang diri sendiri”, tetapi tentang banyak orang yang dalam hubungan selalu mengembalikan masalah ke diri sendiri lebih dulu. Orang lain sedikit dingin, ia langsung berpikir apakah dirinya kurang baik; sesuatu berjalan salah, ia langsung berpikir apakah dirinya merepotkan; jelas-jelas bukan tanggung jawabnya, ia tetap meminta maaf secara refleks.
MUM membuat saya berpikir bukan hanya tentang suka mengurus. Yang lebih penting, sebagian orang benar-benar menjadikan “merawat orang lain” sebagai cara memastikan dirinya ada. Selama orang lain membutuhkan saya, saya masih punya nilai; selama saya bisa membereskan semua orang, saya tidak perlu memperlihatkan kebutuhan saya sendiri.
OJBK terlihat santai, tetapi sebenarnya punya dua sisi. Di satu sisi, ia memang rendah konflik batin; banyak hal tidak layak menghabiskan diri sendiri. Di sisi lain, ia juga bisa berarti terlalu lama tidak mengungkapkan, tidak memperjuangkan, tidak merespons, sampai akhirnya semua hubungan diolah menjadi “boleh saja”, “terserah”, “tidak apa-apa”.
CTRL dan BOSS juga sama. Mengontrol, mendorong, mengatur, menilai, dalam banyak situasi adalah kemampuan. Tapi begitu masuk ke hubungan dekat, kemampuan itu juga bisa berubah menjadi tekanan: orang lain belum sempat berpikir jernih, kamu sudah membuat keputusan untuknya; orang lain hanya butuh didengar, kamu sudah mulai memberi solusi.
Karena itu saya lebih suka melihat SBTI sebagai sekumpulan gestur dalam hubungan, bukan putusan kepribadian.
Kadang ia seperti cermin yang tidak terlalu sopan, memantulkan bukan “kamu tipe apa”, melainkan gerakan yang paling sering kamu pakai dalam tekanan, hubungan, pergaulan, dan perlindungan diri.
Kamu menyerang diri sendiri lebih dulu, atau mengendalikan situasi lebih dulu?
Kamu merawat orang lain lebih dulu, atau berpura-pura tidak peduli lebih dulu?
Kamu memakai keceriaan untuk menopang suasana, atau memakai pura-pura mati agar masalah lewat sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan ini lebih layak dilihat daripada “sebenarnya aku tipe orang yang mana”.
Kalau kamu peduli pada bagian hubungan, kamu bisa lanjut membaca panduan kecocokan cinta SBTI. Tapi saya akan selalu menyimpan satu premis: ia cocok untuk membuka diskusi, bukan untuk mengambil keputusan menggantikanmu.
Ia bisa menjadi pintu masuk, tetapi tidak bisa menjadi jawaban
Semakin serius saya melihat SBTI, semakin saya merasa bahwa hal yang paling perlu dijaga justru batasnya.
Ia menyenangkan karena tidak serius. Ia beresonansi karena menangkap banyak keadaan nyata. Tetapi begitu seseorang mulai memakainya untuk mendiagnosis orang lain, menyaring pasangan, menilai siapa cocok bekerja, siapa tidak cocok diajak bergaul, rasanya langsung berubah.
Satu hasil tes tidak bisa menggantikan interaksi nyata. Kamu mendapat DEAD bukan berarti kamu selamanya tidak punya gairah; kamu mendapat FAKE bukan berarti dirimu palsu; kamu mendapat MUM juga bukan berarti kamu pantas merawat semua orang.
Jadi saya tidak terlalu ingin menulis SBTI sebagai “jawaban”.
Ia lebih seperti pintu masuk. Pintu masuk yang membuatmu bisa lebih ringan mengatakan “belakangan ini aku benar-benar seperti pura-pura mati”, pintu masuk yang membuat teman bisa menangkap candaanmu tentang diri sendiri.
Untuk batas yang lebih lengkap, kamu bisa membaca apa yang bisa dan tidak bisa dijelaskan SBTI. Pemahaman saya sendiri lebih sederhana:
Jika hasil SBTI membuatmu lebih mudah memahami diri sendiri, ia berguna.
Jika hasil SBTI membuatmu berhenti memahami diri sendiri, ia mulai tidak berguna.
Terakhir, kenapa saya menganggapnya serius
Saya menganggap SBTI serius bukan karena ia ilmiah, juga bukan karena ia elegan.
Justru sebaliknya, saya menganggapnya serius karena ia sangat mirip ruang internet yang kacau tapi nyata: orang-orang bercanda sambil memasukkan kelelahan, kecemasan, keras kepala, dorongan merawat, dorongan mengontrol, dan rasa tidak aman dalam hubungan mereka sendiri.
Ia tentu kasar, dan tidak cocok didewakan.
Tetapi sulit bagi saya menyangkal bahwa ia memang menangkap satu kebutuhan ekspresi yang sangat sekarang: banyak orang tidak ingin diklasifikasi ulang, melainkan ingin menemukan satu kalimat yang bisa mengatakan keadaan mereka saat ini.
Kadang kita sebenarnya tidak membutuhkan label yang sempurna akurat.
Kita hanya membutuhkan awal yang bisa diucapkan lebih dulu.
Jadi saya tidak berharap kamu menjadikan SBTI sebagai jawaban.
Saya lebih berharap ia membantumu mengucapkan suatu momen.
